Sabtu, 07 Februari 2015

SKIZOFRENIA



TUGAS
SKIZOFRENIA KEPERAWATAN JIWA




 OLEH :
ARIF SAIFUDDIN INDRA P
NIM. 130011004

PRODI S1 KEPERAWATAN/IVA
UNIVERSITAS NAHDALATUL ULAMA SURABAYA
2014-2015

KATA PENGANTAR

Dengan Memanjatkan puji syukur atas ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya, serta dukungan dari semua yang penulis cintai, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “SKIZOFRENIA. Adapun salah satu maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi nilai tugas kami.
          Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu saran dan keritik yang sifatnya membangun sangat diharapkan.
   Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dalam hal menambah ilmu dan wawasan para pembacanya.
                                                                       
                                                                                                Gresik, 9 Februari 2015
                                                                                               
                                                                                               ARIF SAIFUDDIN INDRA P



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................2
DAFTAR ISI ....................................................................................................................3
BAB I
PENDAHULUAN..............................................................................................................4
BAB II
PEMBAHASAN.................................................................................................................5
1.      Definisi skizofrenia......................................................................................................5
2.      Etiologi Skizofrenia......................................................................................................5
3.      Pembagian Skizofrenia.................................................................................................8
4.      Manifestasi Klinik Skizofrenia.....................................................................................9
5.      Rentang Respon Skizofrenia.......................................................................................10
6.      Penatalaksanaan Skizofrenia.......................................................................................11
7.      Pohon Masalah Skizofreni...........................................................................................17
8.      Asuhan Keperawatan Skizofrenia................................................................................18
BAB III
PENUTUP.........................................................................................................................27
Kesimpulan.......................................................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA            .......................................................................................................28


BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar belakang
Skizofrenia merupakan bentuk psikosa yang banyak dijumpai dimana-mana namun faktor penyebabnya belum dapat diidentifikasi secara jelas. Kraepelin menyebut gangguan ini sebagai demensia precox.

B.Tujuan
1.    Tujuan umum dari pembahasan materi ini penulis berharap agar kita semua, khususnya para pembaca dapat memahami tentang askep pada pasien Skizofrenia.
2.    Tujuan khusus, menjelaskan pengertian Skizofrenia Menjelaskan jenis Skizofrenia Menjelaskan etiologi Skizofrenia Menjelaskan gejalaSkizofrenia Menjelaskan diagnosa Skizofrenia

C. Rumusan masalah
9.      Definisi skizofrenia
10.  Etiologi Skizofrenia
11.  Pembagian Skizofrenia
12.  Manifestasi Klinik Skizofrenia
13.  Rentang Respon Skizofrenia
14.  Penatalaksanaan Skizofrenia
15.  Pohon Masalah Skizofreni
16.  Asuhan Keperawatan Skizofrenia





BAB II
PEMBAHASAN

A.   Definisi Skizofrenia

1.      Skizofrenia adalah suatu bentuk psikosa fungsional dengan gangguan utama pada proses fikir serta disharmoni (keretakan, perpecahan) antara proses pikir, afek/emosi, kamauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataan, terutama karena waham dan halusinasi; asoisasi terbagi-bagi sehingga timbul inkoherensi, afek dan emosi perilaku bizar.
2.      Skizofrenia merupakan bentuk psikosa yang banyak dijumpai dimana-mana namun faktor penyebabnya belum dapat diidentifikasi secara jelas. Kraepelin menyebut gangguan ini sebagai demensia precox (demensia artinya kemunduran intelegensi dan precox artinya muda/sebelum waktunya).

B.   Etiologi Skizofrenia
Terdapat beberapa teori yang dikemukakan para ahli yang menyebabkan terjadinya skizofrenia. Teori teori tersebut antara lain:
1.      Endokrin.Teori ini dikemukakan berhubung dengan sering timbulnya Skizofrenia pada waktu pubertas, waktu kehamilan atau puerperium dan waktu klimakterium, tetapi teori ini tidak dapat dibuktikan.
2.      Metabolisme.Teori ini mengemukakan bahwa skizofrenia disebabkan karena gangguan metabolisme karena penderita tampak pucat, tidak sehat, ujung extremitas agak sianosis, nafsu makan berkurang dan berat badan menurun serta pada penderita dengan stupor katatonik konsumsi zat asam menurun. Hipotesa ini masih dalam pembuktian dengan pemberian obat halusinogenik seperti meskalin dan asam lisergik diethylamide (LSD-25). Obat-obat tersebut dapat menimbulkan gejala-gejala yang mirip dengan gejala-gejala skizofrenia, tetapi reversible.
3.      Teori Adolf Meyer.Skizofrenia tidak disebabkan oleh penyakit badaniah sebab hingga sekarang tidak dapat ditemukan kelainan patologis anatomis atau fisiologis yang khas pada susunan saraf tetapi Meyer mengakui bahwa suatu konstitusi yang inferior atau penyakit badaniah dapat mempengaruhi timbulnya Skizofrenia. Menurut Meyer Skizofrenia merupakan suatu reaksi yang salah, suatu maladaptasi, sehingga timbul disorganisasi kepribadian dan lama kelamaan orang tersebut menjauhkan diri dari kenyataan (otisme).
4.      Teori Sigmund Freud.Teori Sigmund freud juga termasuk teori psikogenik. Menurut freud, skizofrenia terdapat:
a)   Kelemahan ego, yang dapat timbul karena penyebab psikogenik ataupun somatik
b)   Superego dikesampingkan sehingga tidak bertenaga lagi dan Id yamg berkuasa serta terjadi suatu regresi ke fase narsisisme
c)   Kehilangaan kapasitas untuk pemindahan (transference) sehingga terapi psikoanalitik tidak mungkin
d)   Eugen Bleuler Penggunaan istilah Skizofrenia menonjolkan gejala utama penyakit ini yaitu jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses berfikir, perasaan dan perbuatan. Bleuler membagi gejala Skizofrenia menjadi 2 kelompok yaitu gejala primer (gangguan proses pikiran, gangguan emosi, gangguan kemauan dan otisme) gejala sekunder (waham, halusinasi dan gejala katatonik atau gangguan psikomotorik yang lain).

Teori tentang skizofrenia yang saat ini banyak dianut adalah sebagai berikut:
1)      Genetik. Teori ini telah dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga-keluarga penderita skizofrenia terutama anak-anak kembar satu telur sehingga dapat dipastikan factor genetik turut menentukan timbulnya skizofrenia. Angka kesakitan bagi saudara tiri 0,9-1,8 %,  bagi saudara kandung 7-15 %, bagi anak dengan salah satu orang tua yang menderita Skizofrenia 40-68 %, kembar 2 telur 2-15 % dan kembar satu telur 61-86 % (Maramis, 2009). Pengaruh genetik ini tidak sederhana seperti hokum Mendel, tetapi yang diturunkan adalah potensi untuk skizofrenia (bukan penyakit itu sendiri
2)      Neurokimia. Hipotesis dopaminmenyatakan bahwa skizofrenia disebabkan overaktivitas pada jaras dopamine mesolimbik. Hal ini didukung dengan temuan bahwa amfetamin yang kerjanya meningkatkan pelepasan dopamine, dapat menginduksi psikosis yang mirip skizofrenia dan obat anti psikotik bekerja dengan mengeblok reseptor dopamine, terutama reseptor D2.
3)      Hipotesis Perkembangan Saraf. Studi autopsi dan studi pencitraan otak memperlihatkan abnormalitas struktur dan morfologi otak penderita skizofrenia antara lain berupa berat orak rata-rata lebih kecil 6% dari normal dan ukuran anterior-anterior yang 4% lebih pendek, pembesaran ventrikel otak yang nonspesifik, gangguan metabolisme di daerah frontal dan temporal serta kelainan susunan seluler pada struktur saraf di beberapa korteks dan subkortek. Studi neuropsikologis mengungkapkan deficit di bidang atensi, pemilihan konseptual, fungsi eksekutif dan memori pada penderita skizofrenia.

C.   Pembagian Skizofrenia
Kraepelin membagi Skizofrenia dalam beberapa jenis berdasarkan gejala utama antara lain :
  1. Skizofrenia Simplek
Sering timbul pertama kali pada usia pubertas, gejala utama berupa kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berfikir sukar ditemukan, waham dan halusinasi jarang didapat, jenis ini timbulnya perlahan-lahan.
  1. Skizofrenia Hebefrenia
Permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa remaja atau antaraa 15-25 tahun. Gejala yang menyolok ialah gangguan proses berfikir, gangguan kemauaan dan adaanya depersenalisasi atau double personality. Gangguan psikomotor seperti mannerism, neologisme atau perilaku kekanak-kanakan sering terdapat, waham dan halusinaasi banyak sekali.
  1. Skizofrenia Katatonia
Timbulnya pertama kali umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta sering didahului oleh stress emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau stupor katatonik.
  1. Skizofrenia Paranoid
Gejala yang menyolok ialah waham primer, disertai dengan waham-waham sekunder dan halusinasi. Dengan pemeriksaan yang teliti ternyata adanya gangguan proses berfikir, gangguan afek emosi dan kemauan.
  1. Episode Skizofrenia akut
Gejala Skizofrenia timbul mendadak sekali dan pasien seperti dalam keadaan mimpi. Kesadarannya mungkin berkabut. Dalam keadaan ini timbul perasaan seakan-akan dunia luar maupun dirinya sendiri berubah, semuanya seakan-akan mempunyai suatu arti yang khusus baginya.
  1. Skizofrenia Residual
Keadaan Skizofrenia dengan gejala primernya Bleuler, tetapi tidak jelas adanya gejala-gejala sekunder. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali serangan Skizofrenia.
  1. Skizofrenia Skizo Afektif
Disamping gejala Skizofrenia terdapat menonjol secara bersamaaan juga gejala-gejal depresi (skizo depresif) atau gejala mania (psiko-manik). Jenis ini cenderung untuk menjadi sembuh tanpa defek, tetapi mungkin juga timbul serangan lagi.




D.   Manifestasi Klinik Skizofrenia
1.    Gejala Primer
Gangguan proses pikir (bentuk, langkah dan isi pikiran). Yang paling menonjol adalah gangguan asosiasi dan terjadi inkoherensi
 Gangguan afek emosi
1)    Terjadi kedangkalan afek-emosi
2)    Paramimi dan paratimi (incongruity of affect / inadekuat)
3)    Emosi dan afek serta ekspresinya tidak mempunyai satu kesatuan
4)    Emosi berlebihan
5)    Hilangnya kemampuan untuk mengadakan hubungan emosi yang baik
Gangguan kemauan
1)    Terjadi kelemahan kemauan
2)    Perilaku negativisme atas permintaan
3)    Otomatisme : merasa pikiran/perbuatannya dipengaruhi oleh orang lain
Gejala psikomotor
1)    Stupor atau hiperkinesia, logorea dan neologisme
2)    Stereotipi
3)    Katelepsi : mempertahankan posisi tubuh dalam waktu yang lama
4)    Echolalia dan echopraxia

2.    Gejala Sekunder
1)   Waham dan Halusinasi
Istilah ini menggambarkan persepsi sensori yang salah yang mungkin meliputi salah satu dari kelima pancaindra. halusinasi pendengaran dan penglihatan yang paling umum terjadi, halusinasi penciuman, perabaan, dan pengecapan juga dapat terjadi

E.   Rentang Respon Skizofrenia
Description: LAPORAN PENDAHULUAN SKIZOFRENIA
RENTANG RESPON SKIZOFRENIA


F.    Penatalaksanaan Skizofrenia
  1. Terapi Somatik (Medikamentosa)
Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati Skizofrenia disebut antipsikotik. Antipsikotik bekerja mengontrol halusinasi, delusi dan perubahan pola fikir yang terjadi pada Skizofrenia. Pasien mungkin dapat mencoba beberapa jenis antipsikotik sebelum mendapatkan obat atau kombinasi obat antipsikotik yang benar-benar cocok bagi pasien. Antipsikotik pertama diperkenalkan 50 tahun yang lalu dan merupakan terapi obat-obatan pertama yang efekitif untuk mengobati Skizofrenia. Terdapat 3 kategori obat antipsikotik yang dikenal saat ini, yaitu antipsikotik konvensional, newer atypical antipsycotics, dan Clozaril (Clozapine)
a.    Antipsikotik Konvensional
Obat antipsikotik yang paling lama penggunannya disebut antipsikotik konvensional. Walaupun sangat efektif, antipsikotik konvensional sering menimbulkan efek samping yang serius. Contoh obat antipsikotik konvensional antara lain :
1.      Haldol (haloperidol)
2.      Mellaril (thioridazine)
3.      Navane (thiothixene)
4.      Prolixin (fluphenazine)
5.      Stelazine ( trifluoperazine)
6.      Thorazine ( chlorpromazine)
7.      Trilafon (perphenazine)
Akibat berbagai efek samping yang dapat ditimbulkan oleh antipsikotik konvensional, banyak ahli lebih merekomendasikan penggunaan newer atypical antipsycotic.
Ada 2 pengecualian (harus dengan antipsikotok konvensional). Pertama, pada pasien yang sudah mengalami perbaikan (kemajuan) yang pesat menggunakan antipsikotik konvensional tanpa efek samping yang berarti. Biasanya para ahli merekomendasikan untuk meneruskan pemakaian antipskotik konvensional. Kedua, bila pasien mengalami kesulitan minum pil secara reguler. Prolixin dan Haldol dapat diberikan dalam jangka waktu yang lama (long acting) dengan interval 2-4 minggu (disebut juga depot formulations). Dengan depot formulation, obat dapat disimpan terlebih dahulu di dalam tubuh lalu dilepaskan secara perlahan-lahan. Sistem depot formulation ini tidak dapat digunakan pada newer atypic antipsychotic.
b.    Newer Atypcal Antipsycotic
Obat-obat yang tergolong kelompok ini disebut atipikal karena prinsip kerjanya berbda, serta sedikit menimbulkan efek samping bila dibandingkan dengan antipsikotik konvensional. Beberapa contoh newer atypical antipsycotic yang tersedia, antara lain :
1.      Risperdal (risperidone)
2.      Seroquel (quetiapine)
3.      Zyprexa (olanzopine)
c.    Clozaril
Clozaril mulai diperkenalkan tahun 1990, merupakan antipsikotik atipikal yang pertama. Clozaril dapat membantu ± 25-50% pasien yang tidak merespon (berhasil) dengan antipsikotik konvensional. Sangat disayangkan, Clozaril memiliki efek samping yang jarang tapi sangat serius dimana pada kasus-kasus yang jarang (1%), Clozaril dapat menurunkan jumlah sel darah putih yang berguna untuk melawan infeksi. Ini artinya, pasien yang mendapat Clozaril harus memeriksakan kadar sel darah putihnya secara reguler. Para ahli merekomendaskan penggunaan. Clozaril bila paling sedikit 2 dari obat antipsikotik yang lebih aman tidak berhasil.
Sediaan Obat Anti Psikosis dan Dosis Anjuran
No
Nama Generik
Sediaan
Dosis
1
Klorpromazin
Tablet, 25 dan 100 mg,
150-600mg/hariInjeksi25mg/ml
2
Haloperidol
Tablet, 0,5 mg, 1,5 mg, 5 mg,
5-15 mg/hari Injeksi5mg/ml
3
Perfenazin
Tablet 2, 4, 8 mg
12 - 24 mg/hari
4
Flufenazin
Tablet 2,5 mg, 5 mg
10 - 15 mg/hari
5
Flufenazin dekanoat
Inj 25 mg/ml
25 mg/2-4 minggu
6
Levomeprazin
Tablet 25 mg, Injeksi 25 mg/ml
25 - 50 mg/hari
7
Trifluperazin
Tablet 1 mg dan 5 mg
10 - 15 mg/hari
8
Tioridazin
Tablet 50 dan 100 mg
150 - 600 mg/hari
9
Sulpirid
Tablet 200 mg
300 - 600 mg/hari
10
Pimozid
Tablet 1 dan 4 mg
1 - 4 mg/hari
11
Risperidon
Tablet 1, 2, 3 mg
2 - 6 mg/hari




Pemilihan Obat untuk Episode (Serangan) Pertama
Newer atypical antipsycoic merupakn terapi pilihan untuk penderita Skizofrenia episode pertama karena efek samping yang ditimbulkan minimal dan resiko untuk terkena tardive dyskinesia lebih rendah. Biasanya obat antipsikotik membutuhkan waktu beberapa saat untuk mulai bekerja. Sebelum diputuskan pemberian salah satu obat gagal dan diganti dengan obat lain, para ahli biasanya akan mencoba memberikan obat selama 6 minggu (2 kali lebih lama pada Clozaril)
Pemilihan Obat untuk keadaan relaps (kambuh)
Biasanya timbul bila pendrita berhenti minum obat, untuk itu, sangat penting untuk mengetahui alasan mengapa penderita berhenti minum obat. Terkadang penderita berhenti minum obat karena efek samping yang ditimbulkan oleh obat tersebut. Apabila hal ini terjadi, dokter dapat menurunkan dosis menambah obat untuk efek sampingnya, atau mengganti dengan obat lain yang efek sampingnya lebih rendah. Apabila penderita berhenti minum obat karena alasan lain, dokter dapat mengganti obat oral dengan injeksi yang bersifat long acting, diberikan tiap 2- 4 minggu. Pemberian obat dengan injeksi lebih simpel dalam penerapannya. Terkadang pasien dapat kambuh walaupun sudah mengkonsumsi obat sesuai anjuran. Hal ini merupakan alasan yang tepat untuk menggantinya dengan obat obatan yang lain, misalnya antipsikotik konvensonal dapat diganti dengan newer atipycal antipsycotic atau newer atipycal antipsycotic diganti dengan antipsikotik atipikal lainnya. Clozapine dapat menjadi cadangan yang dapat bekerja bila terapi dengan obat-obatan diatas gagal.
Pengobatan Selama fase Penyembuhan
Sangat penting bagi pasien untuk tetap mendapat pengobatan walaupun setelah sembuh. Penelitian terbaru menunjukkan 4 dari 5 pasien yang behenti minum obat setelah episode petama Skizofrenia dapat kambuh. Para ahli merekomendasikan pasien-pasien Skizofrenia episode pertama tetap mendapat obat antipskotik selama 12-24 bulan sebelum mencoba menurunkan dosisnya. Pasien yang mendertia Skizofrenia lebih dari satu episode, atau balum sembuh total pada episode pertama membutuhkan pengobatan yang lebih lama. Perlu diingat, bahwa penghentian pengobatan merupakan penyebab tersering kekambuhan dan makin beratnya penyakit.

Efek Samping Obat-obat Antipsikotik
Karena penderita Skizofrenia memakan obat dalam jangka waktu yang lama, sangat penting untuk menghindari dan mengatur efek samping yang timbul. Mungkin masalah terbesar dan tersering bagi penderita yang menggunakan antipsikotik konvensional gangguan (kekakuan) pergerakan otot-otot yang disebut juga Efek samping Ekstra Piramidal (EEP). Dalam hal ini pergerakan menjadi lebih lambat dan kaku, sehingga agar tidak kaku penderita harus bergerak (berjalan) setiap waktu, dan akhirnya mereka tidak dapat beristirahat. Efek samping lain yang dapat timbul adalah tremor pada tangan dan kaki. Kadang-kadang dokter dapat memberikan obat antikolinergik (biasanya benztropine) bersamaan dengan obat antipsikotik untuk mencegah atau mengobati efek samping ini. Efek samping lain yang dapat timbul adalah tardive dyskinesia dimana terjadi pergerakan mulut yang tidak dapat dikontrol, protruding tongue, dan facial grimace. Kemungkinan terjadinya efek samping ini dapat dikurangi dengan menggunakan dosis efektif terendah dari obat antipsikotik. Apabila penderita yang menggunakan antipsikotik konvensional mengalami tardive dyskinesia, dokter biasanya akan mengganti antipsikotik konvensional dengan antipsikotik atipikal.
Obat-obat untuk Skizofrenia juga dapat menyebabkan gangguan fungsi seksual, sehingga banyak penderita yang menghentikan sendiri pemakaian obat-obatan tersebut. Untuk mengatasinya biasanya dokter akan menggunakan dosis efektif terendah atau mengganti dengan newer atypical antipsycotic yang efek sampingnya lebih sedikit. Peningkatan berat badan juga sering terjadi pada penderita Sikzofrenia yang memakan obat. Hal ini sering terjadi pada penderita yang menggunakan antipsikotik atipikal. Diet dan olah raga dapat membantu mengatasi masalah ini. Efek samping lain yang jarang terjadi adalah neuroleptic malignant syndrome, dimana timbul derajat kaku dan termor yang sangat berat yang juga dapat menimbulkan komplikasi berupa demam penyakit-penyakit lain. Gejala-gejala ini membutuhkan penanganan yang segera.
  1. Terapi Psikososial
a.    Terapi perilaku
Teknik perilaku menggunakan hadiah ekonomi dan latihan ketrampilan sosial untuk meningkatkan kemampuan sosial, kemampuan memenuhi diri sendiri, latihan praktis, dan komunikasi interpersonal. Perilaku adaptif adalah didorong dengan pujian atau hadiah yang dapat ditebus untuk hal-hal yang diharapkan, seperti hak istimewa dan pas jalan di rumah sakit. Dengan demikian, frekuensi perilaku maladaptif atau menyimpang seperti berbicara lantang, berbicara sendirian di masyarakat, dan postur tubuh aneh dapat diturunkan.
b.    Terapi berorintasi-keluarga
Terapi ini sangat berguna karena pasien skizofrenia seringkali dipulangkan dalam keadaan remisi parsial, keluraga dimana pasien skizofrenia kembali seringkali mendapatkan manfaat dari terapi keluarga yang singkat namun intensif (setiap hari). Setelah periode pemulangan segera, topik penting yang dibahas didalam terapi keluarga adalah proses pemulihan, khususnya lama dan kecepatannya. Seringkali, anggota keluarga, didalam cara yang jelas mendorong sanak saudaranya yang terkena skizofrenia untuk melakukan aktivitas teratur terlalu cepat. Rencana yang terlalu optimistik tersebut berasal dari ketidaktahuan tentang sifat skizofreniadan dari penyangkalan tentang keparahan penyakitnya. Ahli terapi harus membantu keluarga dan pasien mengerti skizofrenia tanpa menjadi terlalu mengecilkan hati. Sejumlah penelitian telah menemukan bahwa terapi keluarga adalah efektif dalam menurunkan relaps. Didalam penelitian terkontrol, penurunan angka relaps adalah dramatik. Angka relaps tahunan tanpa terapi keluarga sebesar 25-50 % dan 5 - 10 % dengan terapi keluarga.
c.    Terapi kelompok
Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana, masalah, dan hubungan dalam kehidupan nyata. Kelompok mungkin terorientasi secara perilaku, terorientasi secara psikodinamika atau tilikan, atau suportif. Terapi kelompok efektif dalam menurunkan isolasi sosial, meningkatkan rasa persatuan, dan meningkatkan tes realitas bagi pasien skizofrenia. Kelompok yang memimpin dengan cara suportif, bukannya dalam cara interpretatif, tampaknya paling membantu bagi pasien skizofrenia.
d.    Psikoterapi individual
Penelitian yang paling baik tentang efek psikoterapi individual dalam pengobatan skizofrenia telah memberikan data bahwa terapi alah membantu dan menambah efek terapi farmakologis. Suatu konsep penting di dalam psikoterapi bagi pasien skizofrenia adalah perkembangan suatu hubungan terapetik yang dialami pasien sebagai aman. Pengalaman tersebut dipengaruhi oleh dapat dipercayanya ahli terapi, jarak emosional antara ahli terapi dan pasien, dan keikhlasan ahli terapi seperti yang diinterpretasikan oleh pasien. Hubungan antara dokter dan pasien adalah berbeda dari yang ditemukan di dalam pengobatan pasien non-psikotik. Menegakkan hubungan seringkali sulit dilakukan; pasien skizofrenia seringkali kesepian dan menolak terhadap keakraban dan kepercayaan dan kemungkinan sikap curiga, cemas, bermusuhan, atau teregresi jika seseorang mendekati. Pengamatan yang cermat dari jauh dan rahasia, perintah sederhana, kesabaran, ketulusan hati, dan kepekaan terhadap kaidah sosial adalah lebih disukai daripada informalitas yang prematur dan penggunaan nama pertama yang merendahkan diri. Kehangatan atau profesi persahabatan yang berlebihan adalah tidak tepat dan kemungkinan dirasakan sebagai usaha untuk suapan, manipulasi, atau eksploitasi.
  1. Perawatan di Rumah Sakit (Hospitalization)
Indikasi utama perawatan rumah sakit adalah untuk tujuan diagnostik, menstabilkan medikasi, keamanan pasien karena gagasan bunuh diri atau membunuh, prilaku yang sangat kacau termasuk ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar. Tujuan utama perawatan dirumah sakit yang harus ditegakkan adalah ikatan efektif antara pasien dan sistem pendukung masyarakat. Rehabilitasi dan penyesuaian yang dilakukan pada perawatan rumahsakit harus direncanakan.
Dokter harus juga mengajarkan pasien dan pengasuh serta keluarga pasien tentang skizofrenia. Perawatan di rumah sakit menurunkan stres pada pasien dan membantu mereka menyusun aktivitas harian mereka. Lamanya perawatan rumah sakit tergantung dari keparahan penyakit pasien dan tersedianya fasilitas pengobatan rawat jalan. Rencana pengobatan di rumah sakit harus memiliki orientasi praktis ke arah masalah kehidupan, perawatan diri, kualitas hidup, pekerjaan, dan hubungan sosial. Perawatan di rumah sakit harus diarahkan untuk mengikat pasien dengan fasilitas perawatan termasuk keluarga pasien. Pusat perawatan dan kunjungan keluarga pasien kadang membantu pasien dalam memperbaiki kualitas hidup.








G.   Pohon Masalah Skizofrenia
Description: LAPORAN PENDAHULUAN SKIZOFRENIA
PATHWAY SKIZOFRENIA


H.   Asuhan Keperawatan Skizofrenia
  1. Pengkajian keperawatan skizofrenia
a)      Identitas ,Sering ditemukan pada usia dini atau muncul pertama kali pada masa pubertas.
b)      Keluhan Utama, Keluhan utama yang menyebabkan pasien dibawa ke rumah sakit biasanya akibat adanya kumunduran kemauan dan kedangkalan emosi.
c)      Faktor Predisposisi. Faktor ini sangat erat terkait dengan faktor etiologi yakni keturunan, endokrin, metabolisme, susunan syaraf pusat, kelemahan ego.
d)     Psikososial
1.      GenogramOrang tua penderita skizofrenia, salah satu kemungkinan anaknya 7-16 % skizofrenia, bila keduanya menderita 40-68 %, saudara tiri kemungkinan 0,9-1,8 %, saudara kembar 2-15 %, saudara kandung 7-15 %.
2.       Konsep Diri Kemunduran  kemauan dan kedangkalan emosi yang mengenai pasien akan mempengaruhi konsep diri pasien.
3.      Hubungan Sosial Klien cenderung menarik diri dari lingkungan pergaulan, suka melamun, berdiam diri.
4.      Spiritual Aktifitas spiritual menurun seiring dengan kemunduran kemauan.
5.      Status Mental
6.      Penampilan Diri Pasien tampak lesu, tak bergairah, rambut acak-acakan, kancing baju tidak tepat, resliting tak terkunci, baju tak diganti, baju terbalik sebagai manifestasi kemunduran kemauan pasien.
7.      Pembicaraan Nada suara rendah, lambat, kurang bicara, apatis.
8.      Aktifitas Motorik Kegiatan yang dilakukan tidak bervariatif, kecenderungan mempertahankan pada satu posisi yang dibuatnya sendiri (katalepsia).
9.      Emosi, Emosi dangkal
10.  Afek Dangkal, tak ada ekspresi roman muka.
11.  Interaksi Selama Wawancara Cenderung tidak kooperatif, kontak mata kurang, tidak mau menatap lawan bicara, diam.
12.  Persepsi, Tidak terdapat halusinasi atau waham.
13.  Proses Berfikir, Gangguan proses berfikir jarang ditemukan.
14.  Kesadaran, Kesadaran berubah, kemampuan mengadakan hubungan dengan dan pembatasan dengan dunia luar dan dirinya sendiri sudah terganggu pada taraf tidak sesuai dengan kenyataan (secara kualitatif).
15.  Memori, Tidak ditemukan gangguan spesifik, orientasi tempat, waktu, orang baik.
16.  emampuan penilaian, Tidak dapat mengambil keputusan, tidak dapat bertindak dalam suatu keadaan, selalu memberikan alasan meskipun alasan tidak jelas atau tidak tepat.
17.  Tilik diri, Tak ada yang khas.
     
e)    Kebutuhan Sehari-hari
Pada permulaan penderita kurang memperhatikan diri dan keluarganya, makin mundur dalam pekerjaan akibat kemunduran kemauan. Minat untuk memenuhi kebutuhannya sendiri sangat menurun dalam hal makan, BAB/BAK, mandi, berpakaian, intirahat tidur.
f)   Diagnosa Keperawatan Skizofrenia
1.      Isolasi sosial b.d harga diri rendah
2.      Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi pendengaran b.d menarik diri
3.      Kurang perawatan diri b.d menarik diri




  1. Rencana Tindakan Keperawatan
a.      Diagnosa keperawatan: Isolasi sosial b.d harga diri rendah
Diagnosa Keperawatan
Perencanaan
Intervensi
Rasional
Tujuan
Kriteria Hasil
Isolasi sosial b.d harga diri rendah
Tujuan umum
Klien dapat melakukan hubungan sosia secara bertahap
-
-
-
Tujuan khusus 1
Klien dapat membuna hubungan saling percaya
a.    Klien dapat mengungkapkan perawaannya
b.    Ekspresi wajah bersahabat
c.    Ada kontak mata
d.    Menunjukkan rasa senang
e.    Mau berjabat tangan
f.     Mau menjawab salam
g.    Klien mau duduk berdampingan
h.    Klien mau mengutarakan masalah yang dihadapi
a.    Bina hubungan saling percaya
         Sapa klien secara ramah baik secara verbal maupun nonverbal
         Perkenalkan diri dengan sopan
         Tanya nama lengkap klien dan nama panggilanyang disukai
         Jelaskan tujuan pertemuan, jujur dan menepati janji
         Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
         Beri perhatian kepada klien
b.    Beri kesempatan untuk mengungkapkan perawaannya tentang penyakit yang diderita
c.    Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
d.    Katakana pada klien bahwa dia adalah seorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri
Hubungan saling percaya akan menimbulkan kepercayaan klien kepada perawat sehingga akan memudahkan dalam pelaksanaan tindakan selanjutnya
Tujuan khusus 2
Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Klien mampu mempertahankan aspek yang positif
a.    Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimilikiklien dan beri reinforcement atas kemampuan mengungkapkan perasaannya
b.    Saat bertemu klien hindarkan memberi penilaian negatif
c.    Utamakan memberi pujian yang realistis
Reinforcement positif akan meningkatkan harga diri klien
Tujuan khusus 3
Klien dapat menilai kemampuan yang data digunakan
a.    Kebutuhan klien terpenuhi
b.    Klien dapat melakukan aktivitas terasarah
a.    Diskusikan kemampuan klien yang masih dapat digunakan selama sakit
b.    Diskusikan juga kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaan di rumah sakit dah di rumah nantinya
Peningkatan kemampuan klien akan mendorong klien untuk madiri
Tujuan khusus 4
Klien dapat menetapkan dan merencanakan kegiatan sesuai kemampuan
a.    Klien mampu beraktivitas sesuai kemampuan
b.    Klien mengikuti TAK
a.    Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan, kegiatan mandiri, kegiatan dengan bantuan minimal, kegiatan dengan bantuan total
b.    Tingkatkan kegiatan klien sesuai toleransi kondisi klien
c.    Berikan contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan  (sering klien takut melaksanakannya)
Pelaksanaan kegiatan secara mandiri menjadi modal awal untuk meningkatkan harga diri
Tujuan khusus 5
Klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan kondisi sakit dan kemampuannya
Klien mampu beraktivitas sesuai kemampuan
a.    Berikan kesempatan kepada klien mencoba kegiatan yang telah direncanakan
b.    Beri pujian atas usaha dan keberhasilan klien
c.    Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
Melalui aktivitas, klien akan mengetahui kemampuannya
Tujuan khusus 6
Klien dapat memanfaatkan system pendukung yang ada
a.    Klien mampu melakukan apa yang diajarkan
b.    Klien mau memberikan dukungan
a.    Beri pendidikan kesehatan kepada keluarga tentang cara merawat klien dengan isolasi social dan harga diri rendah
b.    Bantu kelluarga memberi dukungan selama klien dirawat
c.    Bantu keluarga menyiapkan lingkungan dirumah
Perhatian keluarga dan pengertian keluarga akan membantu meningkatkan harga diri klien

b.     Diagnosa keperawatan: resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi pendenganran b.d menarik diri
Diagnosa Keperawatan
Perencanaan
Intervensi
Rasional
Tujuan
Kriteria Hasil
Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi pendengaran b.d isolasi sosial
Tujuan umum
Klien dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga tidak terjadi halusinasi
-
-
-
Tujuan khusus 1
Klien dapat membuna hubungan saling percaya
Klien dapat mengungkapkan perasaan dan keberadaannya secara verbal
a.    Klien mau menjawab salam
b.    Klien mau berjabat tangan
c.    Mau menjawab pertanyaan
d.    Ada kontak mata
e.    Klien mau duduk berdampingan dengan perawat
a.    Bina hubungan saling percaya
         Sapa klien secara ramah baik secara verbal maupun nonverbal
         Perkenalkan diri dengan sopan
         Tanya nama lengkap klien dan nama panggilanyang disukai
         Jelaskan tujuan pertemuan, jujur dan menepati janji
         Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
         Beri perhatian kepada klien
b.    Beri kesempatan untuk mengungkapkan perawaannya tentang penyakit yang diderita
c.    Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
d.    Katakana pada klien bahwa dia adalah seorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong diri sendiri
Hubungan saling percaya akan menimbulkan kepercayaan klien kepada perawat sehingga akan memudahkan dalam pelaksanaan tindakan selanjutnya
Tujuan khusus 2
Klien dapat menyebutkan penyabab menarik diri
Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri yang berasal dari :
a.    Diri sendiri
b.    Orang lain
c.    Lingkungan
a.    Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya
b.    Beri kesempatak kepada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab menarik diri atau tidak mau bergaul
c.    Diskusikan dengan klien tentang perilaku menarik diri, tanda dan gejala
d.    Berikan pujian tentang kemampuan klien mengungkapkan perasaannya
Dengan mengetahui tanda dan gejala menarik diri akan menentukan langkah intervensi selanjutnya
Tujuan khusus 3
Klien dapat menyebutkan keuntungan bersosialisasi dengan orang lain dan kerugian todak bersosialisasi dengan orang lain
Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain, misalnya banyak teman, tidak sendiri, bias berdiskusi, terasa ramai, dapat bercanda
a.    Kaji pengetahuan klien tentang keuntungan dan manfaat bergaul dengan orang lain
b.    Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaannya tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain
c.    Diskusikan dengan klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain
d.    Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila todak bergaul dengan orang lain
e.    Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaannya tentang kerugian bila tidak  berhubungan dengan orang lain
f.     Diskusikan dengan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain
g.    Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain
Reinforcement positif dapat meningkatkan harga diri

c.      Diagnosa keperawatan: Kurang perawatan diri b.d menarik diri
Diagnosa Keperawatan
Perencanaan
Intervensi
Rasional
Tujuan
Kriteria Hasil
Kurang perawatan diri b.d menarik diri
Tujuan umum
Pasien mengungkapkan keinginan untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari
-
-
-
Tujuan khusus 1
Klien mampu melakukan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri dan mendemontrasikan suatu keinginan untuk melakukannya
Klien mampu melakukan aktivitas sehari-hari
a.    Pasien makan sendiri tanpa bantuan.
b.    Pasien memilih pakaian yang sesuai, berpakaian merawat dirinya tanpa bantuan.
c.    Pasien mempertahankan kebersihan diri secara optimal dengan mandi setiap hari dan melakukan prosedur defekasi dan berkemih tanpa bantuan.
a.    Dukung pasien untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari sesuai tingkat kemampuan pasien
b.    Dukung kemandirian pasien, tapi berikan bantuan saat pasien tidak dapat melakukan beberapa kegiatan
c.    Perlihatkan secara konkret, bagaimana melakukakn kegiatan yang menurut pasien sulit melakukannya
d.    Bantu dalam menyiapkan perlengkapan ADLs
e.    Berikan pengakuan dan penghargaan positif untuk kemampuannya mandiri
Kegiatan mandiri dapar meningkatkan kemampuan aktivitas yang dapat dilakukan klien

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang sifatnya merusak, melibatkan gangguan berfikir, persepsi, pembicaraan, emosional, dan gangguan perilaku. Gangguan psikotik adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidakmampuan individu menilai kenyataan yang terjadi. Faktor – faktor penyebab skozofrenia meliputi faktor biologis, psikologis, lingkungan dan organis. Sedangkan gangguan psikotik disebabkan oleh faktor organo – biologik, psikologik, sosio - agama. Secara umum ciri – ciri skizofrenia yaitu gangguan delusi, halusinasi, disorganisai, pendataran afek, alogia, avolisi, anhedonia. Ciri – ciri gangguan psikotik diantaranya memiliki labilitas emosional, menarik diri dari interaksi sosial, mengabaikan penampilan dan kebersihan diri, mengalami penurunan daya ingat dan kognitif parah, mengalami kesulitan mengorientasikan waktu, orang, tempat, memiliki keengganan melakukan segala hal serta memiliki perilaku yang aneh. Tipe skizofrenia dikelompokkan menjai tipe paranoid, katatonik, tak terperinci atau tak terbedakan, residual. Untuk gangguan psikotik sendiri dikelompokkan menjadi tipe psikotik akut dan kronik. Cara Mengatasi skizofrenia antara lain menciptakan kontak sosial yang baik, terapi ECT (electrocompulsive therapy) dan (insulin comma therapy), menghindarkan dari frustrasi dan kesulitan psikis lainnya, membiasakan pasien memiliki sikap hidup positif dan mau melihat hari depan dengan rasa berani, memberi obat neuroleptik. Baik gangguan psikotik akut maupun kronik diatasi dengan memberikan asuhan keperawatan pada klien.


DAFTAR PUSTAKA

Maramis, Willy F. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Ed 2. Surabaya. Airlangga UniversityPress
Stuart, Gail W. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Ed 5. Jakarta. EGC
Schizophrenia. www.merck.com diakses tanggal 15 Oktober 2011
Schizophrenia. www.emedicine.com diakses tanggal 15 oktober 2011

1 komentar:

  1. Casinos Near Casinos Near Casinos in Washington State
    Closest casinos to Harrah's Resort 제주 출장안마 Cherokee · 1. 공주 출장안마 Grand Casino, Cherokee · 2. 포항 출장샵 Harrah's Cherokee 영주 출장안마 Casino Resort, Robinsonville, NC 광주 출장샵 · 3. Beau Rivage Casino,

    BalasHapus